OPINI  

Urgensi Pohon Literasi dan Penerapan Teori POCAPOLI

Oleh : H. SUJAYA, S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Sindang lndramayu ) Dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah, banyak guru yang kreatif membangun suatu program membaca, salah satu dengan cara membuat Pohon Literasi.

Pohon literasi ini kemudian bisa disebut sebagai salah satu metode pembelajaran atau teknik guru dalam mengajar yang interaktif. Hanya saja tujuannya lebih kepada meningkatkan dan membangun budaya literasi, mencakup budaya membaca dan menulis.

Literasi diketahui menjadi salah satu aspek yang menjadi tolak ukur untuk mengetahui kualitas pendidikan dan sumber daya manusia suatu negara. Bahkan Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang terkait pentingnya literasi.

Indonesia bisa merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang tidak terlepas dari kalangan pelajar yang punya budaya literasi tinggi. Oleh sebab itu, tidak keliru rasanya jika budaya literasi ini kemudian diperkenalkan ke kelas-kelas di berbagai sekolah. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menggunakan pohon literasi. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pohon literasi? Pengertian Pohon Literasi Pohon literasi menjadi salah satu bagian atau Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kemudian menjadi media pembelajaran yang digunakan para guru untuk mengajarkan siswa di kelasnya mengenai budaya literasi. Apa itu pohon literasi? Jadi, pohon literasi adalah salah satu media pembelajaran yang menjadi simbol kreativitas dengan cara membuat dan memajang pohon di dalam kelas (Siti Nurhayati dkk, Jurnal Teladan, 2018: 18). Secara sederhana, pohon literasi bisa didefinisikan sebagai media pembelajaran yang digunakan untuk merangsang atau membangun budaya literasi yang cakupannya berupa kegiatan membaca dan menulis. Sesuai dengan namanya, media pembelajaran ini berbentuk pohon yang digambar di secarik kertas. Idealnya dibuat dua dimensi maupun tiga dimensi, dimana pohon yang digambarkan dibuat tidak memiliki daun. Hanya ada bagian batang sampai ke ranting yang cabangnya banyak. Setiap ranting ini dibuat tiga dimensi, sehingga rantingnya melayang tidak menempel di permukaan kertas atau permukaan lainnya (misalnya dinding). Ranting yang melayang inilah nantinya akan digunakan untuk menggantungkan atau menempelkan kertas berbentuk daun. Jika pohon berbentuk dua dimensi, maka kertas berbentuk daun ini akan ditempel dengan lem. Sementara untuk pohon berbentuk tiga dimensi, maka daun-daunnya bisa digantung. Daun di pohon literasi kemudian ada tulisan di dalamnya. Yakni berisi nama, judul buku yang dibaca, dan penggalan kalimat dari buku yang telah dibaca. Penggalan kalimat ini dipilih yang pendek dan dinilai menarik atau bermanfaat oleh siswa yang membaca buku tersebut. Seiring berjalannya waktu, pembuatan dan pemanfaatan pohon literasi tidak hanya di lingkungan sekolah saja. Melainkan juga di lingkungan keluarga dan masyarakat luas, misalnya di rumah maupun di balai desa. Sehingga masyarakat luas bisa membaca dengan rajin dan kemudian mengisi pohon literasi dengan daun berisi nama dan judul buku yang telah dibaca. Semakin banyak daun di dalam pohon literasi tersebut maka artinya semakin banyak orang sudah membaca buku. Tujuan Membuat Pohon Literasi Pembuatan pohon literasi kemudian bukan tanpa alasan, dan sebagai salah satu media pembelajaran tentu tujuannya juga beragam. Secara umum, berikut adalah tujuan dari pembuatannya • Membantu menciptakan dan mengembangkan budi pekerti yang baik. Mulai dari kebiasaan membaca buku bermanfaat, kemudian jujur dan disiplin memajang judul buku di pohon literasi, dan seterusnya. • Menciptakan budaya membaca baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. • Dapat meningkatkan pengetahuan siswa, sebab membaca adalah metode praktis untuk mempelajari banyak bidang keilmuan. • Dapat meningkatkan wawasan siswa, sebab dengan membaca siswa bisa tahu lebih banyak hal meskipun tidak datang ke suatu tempat secara langsung atau merasakan suatu hal secara langsung juga. • Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sebab membaca membuat siswa lebih banyak tahu dan kemudian lebih banyak membuat mereka bertanya dan penasaran. • Dapat memperkuat kepribadian seseorang, karena dengan membaca banyak buku seseorang bisa membangun karakter positif dari bacaan dengan muatan positif juga. Jadi, pohon literasi merupakan tempat yang ideal untuk menempelkan atau menggantung tulisan-tulisan siswa setelah mereka terlibat dalam aktivitas literasi, seperti membaca buku atau kegiatan pembelajaran lainnya. Tulisan-tulisan ini bisa berisi hal-hal penting atau menarik yang ditemukan oleh siswa saat membaca. Format tulisannya tidak perlu terlalu panjang dan lebar, cukup singkat dan padat. Tulisan tersebut dapat ditulis pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan atau digantungkan pada ranting pohon. Memang kebanyakan program ini dijalankan di sekolah dan instansi pendidikan untuk meningkatkan minat baca orang yang datang, khususnya siswa itu sendiri. Manfaat Membuat Pohon Literasi Pembuatan pohon literasi kemudian menghadirkan banyak sekali manfaat, beberapa diantaranya adalah: 1. Memperluas Penguasaan Kosakata Siswa Budaya literasi dengan program pohon literasi membantu menumbuhkan minat baca di kalangan siswa. Sehingga setiap hari mereka akan mengisi waktu luang seperti saat jam kosong atau saat jam istirahat dengan membaca. Semakin sering mereka membaca dengan harapan bisa menempelkan namanya di pohon literasi, maka semakin banyak kosakata mereka kuasai. Mereka akan tahu jika ingin menyampaikan apa bisa dengan kata apa. Jika ingin menulis kalimat seperti apa maka bisa memakai kata apa saja. Hal ini tentu penting, karena bisa meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi. Baik secara lisan maupun tulisan sebab mereka sudah menguasai banyak kosakata. Membaca pun tidak melulu dilakukan dari buku, mereka bisa membaca media atau tulisan lain. Misalnya artikel berita di koran, komik, dan lain sebagainya yang tersedia di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah di dekat rumah mereka. Sehingga mereka banyak membaca dan tidak hanya dari satu jenis media melainkan dari banyak media. Mereka kemudian membaca banyak informasi dengan ragam kosakata yang kaya. Hal ini membantu mereka mengenal lebih banyak kosakata sepanjang masa kanak-kanak. 2. Mengasah Kemampuan Otak Lewat pohon literasi maka siswa akan memiliki keinginan untuk rajin membaca, dimulai dari buku sederhana dengan jumlah halaman sedikit. Kemudian perlahan akan terus meningkat. Sebab mereka menyukai sensasi saat namanya terpampang di pohon literasi dan berhasil membaca banyak buku. Seiring berjalannya waktu hal ini menjadi kebiasaan, bahkan setelah daun di pohon literasi penuh. Dalam membaca, anak-anak tidak hanya bisa mengenal lebih banyak kosakata namun juga bisa mengasah kemampuan otak. Mengenal dan mengingat kosakata sendiri sudah merangsang otak bekerja. Kemampuan memori menjadi lebih baik. Belum lagi dengan kemampuan otak untuk fokus dan konsentrasi selama membaca. Sekaligus meningkatkan kemampuan otak untuk mendapatkan informasi dari apa yang dibaca dan memahaminya sekaligus mengingatnya. Proses membaca kemudian membantu mengasah kemampuan otak, dari yang mudah lupa menjadi ingat. Sehingga otak terbiasa bekerja dan membantu siswa dalam belajar mata pelajaran apapun. Prestasi akademik mereka kemudian akan meningkat. 3. Menambah Ilmu Pengetahuan dan Wawasan Buku adalah jendela dunia, membaca isinya akan membantu mengetahui isi dunia dari tulisan. Siswa yang terlatih membaca dengan adanya pohon literasi akan memiliki peningkatan ilmu pengetahuan dan wawasan. Ilmu dan wawasan yang didapatkan akan disesuaikan dengan buku yang dibaca. Saat membaca buku tentang ilmu alam, maka ilmu alam dari siswa tersebut akan bertambah. Begitu juga dengan buku lain yang memiliki tema beragam. 4. Meningkatkan Ketajaman dalam Menangkap Informasi Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, kegiatan membaca mampu mengasah kemampuan otak. Salah satunya adalah kemampuan untuk menangkap informasi dari tulisan yang dibaca. Sebuah buku, artikel, dan sejenisnya tentu mengandung informasi dari bidang dan tema tertentu. Membaca membantu siswa untuk mendapatkan informasi di dalamnya dengan mudah sebab paham setiap kosakata yang dicantumkan dan dirangkai menjadi kalimat. Hal ini juga akan mengasah kemampuan siswa untuk menangkap informasi dari bentuk selain tulisan. Misalnya dari lisan, pada saat guru menjelaskan materi pelajaran maka mereka menjadi lebih mudah menangkap penjelasan tersebut. 5. Meningkatkan Konsentrasi Membaca membantu siswa untuk meningkatkan kemampuannya berkonsentrasi. Lewat pohon literasi, siswa kemudian akan terbiasa membaca dan mencoba berkonsentrasi memahami apa yang sedang dibacanya. Hal ini akan menjadi kebiasaan, sehingga mereka terbiasa berkonsentrasi dimana saja. Termasuk di dalam kelas saat guru menerangkan pelajaran tertentu. 6. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pohon literasi akan membuat kegiatan membaca sebagai kebiasaan sekaligus budaya. Lewat kebiasaan ini siswa kemudian mendapat banyak informasi, kemudian menyadari ada banyak hal yang belum mereka ketahui. Sehingga mereka akan berusaha mencari tahu informasi tersebut tentang apa. Bisa dengan bertanya pada guru, pada teman, atau membaca buku lain yang berhubungan. Sehingga mereka menjadi pribadi yang kritis dan baik bagi perkembangan mereka. 7. Melatih Keterampilan Menulis Membaca dengan dorongan pohon literasi juga membantu siswa untuk melatih keterampilannya dalam menulis. Umumnya seorang penulis menjadi penulis setelah menikmati kebiasaan membaca. Saat membaca dirasa memberi banyak manfaat dan keseruan maka muncul keinginan untuk menulis cerita yang menarik juga. Selain itu, di pohon literasi siswa juga perlu mengambil penggalan buku yang dibaca sehingga mereka belajar menulis bagaimana menyusun penggalan tersebut agar mudah dibaca dan dipahami siswa maupun guru di kelas. Cara Membuat Pohon Literasi Jika sudah tahu pengertian, tujuan, dan manfaat dari pohon literasi maka perlu tahu bagaimana cara membuatnya. Sebab mirip dengan membuat kerajinan tangan yang kemudian digunakan sebagai media pembelajaran. Berikut detailnya: A. Alat dan bahan: • Kertas bekas (koran, kardus, karton, dan lain sebagainya). • Ranting kering dari tanaman atau pohon tertentu. • Lem. • Gunting. • Spidol dan pena. • Buku. B. Cara membuat Pohon Literasi yang Menarik 1. Siapkan alat dan juga bahan yang telah disebutkan di atas. 2. Membuat atau menggambar kerangka pohon kertas di media kertas atau kertas percobaan. 3. Setelah gambar pohon dari bagian batang sudah selesai, maka tinggal diberi warna. Bisa dibuat alami dengan menggunakan spidol warna coklat, hitam, dan sejenisnya. 4. Ambil potongan ranting yang sudah disiapkan, ukurannya bisa disesuaikan dengan ukuran batang pohon yang sudah digambar tadi. Jika dirasa terlalu besar maka dibelah dua, jika terlalu panjang maka bisa dipotong menjadi beberapa bagian. 5. Rekatkan ranting tanaman tadi di bagian atas batang pohon membentuk ranting pohon di dunia nyata, gunakan lem secukupnya dan tunggu sampai kering. Lakukan sampai seluruh ranting habis. 6. Ambil kertas, kemudian gambar bentuk daun lalu beri warna. Buat dengan aneka jenis warna, bisa menggunakan spidol pada alat dan bahan bisa juga diganti dengan crayon. 7. Tempelkan pohon literasi ini ke dinding, bisa bagian belakang kelas yang kosong atau bagian lainnya. 8. Instruksikan siswa untuk membaca buku, dan mencatat judul serta penggalan kalimatnya lalu diberi nama pada kertas berbentuk daun aneka warna. Setiap selesai membaca, kertas daun berisi tulisan ini ditempelkan ke ranting pohon literasi. Penerapan Konsep Pocapoli Konsep awal pocapoli adalah siswa dapat membaca buku di mana saja, salah satunya di sudut baca kelas. Di setiap ruang kelas harus mempunyai pocapoli. Tujuan pocapoli adalah meningkatkan budaya literasi di sekolah dan memotivasi siswa membaca buku di pojok baca. Pocapoli dibuat oleh guru dan dibantu oleh semua siswa pelaksanaanya dilakukan ketika istirahat dan di hari sabtu. Semua guru saling membantu dalam proses pembuatan dengan menyelesaikan satu per satu setiap ruang kelas Lukisan yang disesuaikan dengan usia anak. Seperti di kelas awal temanya adalah lukisan pohon cita-cita, di mana setiap buahnya bertuliskan cita-cita anak. Bisa juga pohon tema di setiap cabangnya bertuliskan tema dalam buku kurikulum 13. Untuk kelas tinggi berupa pohon pecahan agar anak bisa mengingat pecahan dan lain sebagainya. Membuat lukisan tersebut bukan hanya sekedar menggambar, tetapi agar menjadi bermakna. Dengan bermaknanya lukisan menambah minat siswa untuk membaca di sudut baca sehingga ketika pelajaran selesai atau ketika jam istirahat mereka bisa membaca bersama di sudut baca. Pembuatan pocapoli tidak hanya di ruang kelas, namun bisa juga di kantor dibuat lukisan pohon budaya yang mencerminkan kegiatan sekolah. Setiap akarnya bertuliskan sikap relijius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pembuatan pocapoli Proses pembuatan pocapoli tidak membutuhkan modal yang besar. Cukup dengan menggunakan buku gambar, kertas karton, origami, spidol, cat air, kuas, lem fox, gunting, dan cat pilox. Bahan dan alat tersebut digunakan untuk membuat karya lukisan dimulai dari melukis gambar pohon di kertas gambar atau di kertas karton dengan menggunakan spidol. Gambar itu kemudian diwarnai dengan menggunakan cat air. Setelah selesai gambar atau lukisan ditempelkan ke dinding dengan menggunakan lem fox. Terakhir, disemprot dengan menggunakan cat pilox agar hasil gambar terlihat hidup dan tahan lama. Untuk daun dan bunganya dibuat dengan menggunakan kertas origami sesuai desain yang kita buat. Tulisan yang dibuat cukup diketik dan bisa ditempel di pohon dan daunnya sesuai dengan tema gambar. Pembuatan pocapoli tidak sesulit yang dibayangkan dan tidak butuh modal besar. Dengan segala kreativitas yang dimiliki guru dan siswa bisa berkolaborasi dalam pembuatan pocapoli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

gugat jokowi

gugat jokowi